Untung Rugi Investasi di Saham

Sebelumnya saya sudah membahas beberapa instrumen investasi di paper aset selain saham. Namun saya pribadi lebih menyukai untuk berinvestasi di instrumen real paper aset, khususnya saham dan obligasi.

Real paper aset memberikan dampak langsung kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Terlebih lagi, ketika berinvestasi disaham saya bisa mengontrol kinerja perusahaannya sehingga saya dengan mudah memutuskan untuk membeli atau menjual saham tersebut dengan patokan yang jelas.

Saya tidak berinvestasi di emas atau valuta asing karena saya tidak bisa mendapatkan patokan dasar untuk membeli atau menjualnya.

Namun membeli obligasi pun juga cukup menjadi dilema karena returnnya yang relatif rendah, terlebih lagi harus dikurangi dengan nilai inflasi.

Sehingga saya memutuskan untuk fokus mendalami instrumen saham. Namun saham sendiri memiliki kelebihan dan kekurangan. Banyak orang mengatakan berinvestasi saham sangat beresiko, namun dilain sisi banyak juga yang memperoleh keuntungan dari saham. Mari kita bahas

Keuntungan

Saham memberikan banyak keuntungan sehingga hampir semua orang terkaya di dunia memiliki investasi pada aset ini.

  • Bisa dimulai dari modal kecil

Tidak banyak instrumen investasi yang bisa dimulai dari modal minim. Misalnya saja Anda berinvestasi di properti atau real bisnis, Anda pasti akan memerlukan modal yang cukup besar bukan ?

Sedangkan disaham kita dapat memulai dengan modal mulai 100 ribu saja.

  • Potensi High Return

Banyak orang berinvestasi disaham karena menjanjikan return dari investasi yang tinggi. Coba lihat saja grafik kenaikan harga IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) selama 20 tahun terakhir ini.

Dalam 5 tahun terakhir (2014-2015) IHSG menghasilkan return sekitar 18%, namun apabila ditarik kewaktu yang lebih panjang yakni 10 tahun (2009-2019) dan 20 tahun (1999-2019), IHSG menghasilkan return masing-masing 144% dan 797%.

Data Return investasi saham 20 tahun terakhir

Jika dihitung pertahun, return IHSG dalam 5,10 dan 20 tahun terakhir masing-masing 4%,14% dan 40% per tahunnya.

Bisa dilihat perbedaan return yang sangat signifikan di 5 tahun dan 20 tahun. Disinilah hukum compounding berkerja. Semakin lama Anda berinvestasi disaham, kerja compounding akan semakin dahsyat.

Lihat saja data 20 tahun terakhir yang sudah berhasil melipatgandakan uang investor hampir 8 kali lipat. Ini tentunya belum termasuk tambahan deviden yang besarnya rata-rata 1-10% pertahun.

Dan perlu diingat juga, return ini merupakan return rata-rata seluruh perusahaan yang listing dibursa saham, baik itu perusahaan yang kinerjanya baik ataupun yang merugi tiap tahun.

Jika Anda berhasil menemukan 15-20 perusahaan yang berkinerja baik, tentunya potensi return yang Anda akan perloleh akan jauh lebih besar.

  • Potensi pasif income dari deviden

Perusahaan yang memiliki kinerja baik akan membagikan deviden rata-rata berkisar 1-10% per tahun kepada pemegang sahamnya.

1-10% ini dihitung dari harga saham terakhir saat pembagian deviden. Ini biasanya dikenal dengan istilah deviden yield.

Tapi jika Anda membeli saham tersebut 10 tahun yang lalu tentu saja deviden yield yang Anda dapat lebih besar dari 1-10% ini, karena Anda sudah membelinya diharga yang lebih murah dari harga sekarang.

Tentu dengan catatan, perusahaan yang Anda pilih bekinerja baik sehingga harga sahamnya terus meningkat.

  • Sangat likuid

Saham merupakan instrumen investasi yang sangat mudah diperjual belikan. Bayangkan jika Anda berinvestasi pada properti, tentu Anda akan tidak mudah menjualnya jika tiba-tiba membutuhkan dana.

Namun, portofolio saham Anda akan bisa langsung dijual kapan pun Anda membutuhkan dana selagi bursa saham masih dibuka. Tetapi Anda tetap perlu waktu proses sekitar 2 hari untuk mencairkan dana Anda dari rekening dana nasabah.

Kerugian

Tidak dapat dipungkiri setiap jenis instrumen investasi pasti memiliki kelemahan.

  • Potensi capital losses

Harga saham yang turun dapat menyebabkan kerugian bagi para pemegang sahamnya. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan harga saham turun. Bisa karena ekonomi yang sedang melemah dan tidak stabil atau mungkin juga karena kinerja perusahaan yang memburuk.

Jika Anda sebagai pemegang saham yakin bahwa perusahaan akan terus bekinerja buruk maka mungkin Anda memutuskan untuk menjual saham tersebut walaupun dalam keadaan rugi.

Namun, dilain sisi, Anda tidak akan benar-benar mengalami kerugian jika Anda tidak menjual saham tersebut.

  • Financial Fraud

Walaupun jumlahnya sangat sedikit tetapi terdapat beberapa perusahaan yang menerbitkan laporan keuangannya dengan nilai yang tidak sesuai kondisi aktual perusahaan, bahkan ada beberapa kasus yang sengaja melaporkan pendapatan lebih tinggi dari kondisi aktual.

Tujuannya ?

Tentunya untuk meningkatkan harga saham perusahaan. Namun apabila anda membeli ketika kondisi harga sahamnya telah melonjak, akan sangat besar kemungkinan harga sahamnya akan segera jatuh kembali dan bahkan akan disuspend atau kondisi terburuknya akan langsung di delisting dari bursa.

Disinilah pentingnya ilmu dalam berinvestasi.

  • Perusahaan bangkrut atau disupend

Kemungkinan terdapat suatu kondisi dimana Anda masih memegang saham yang kinerjanya semakin memburuk dan terus mengalami kerugian dan harganya turun terus hingga menyentuh nilai 50 rupiah. Hal ini mengakibatkan emiten yang Anda investasikan mengalami suspend.

Jika hal ini terjadi, maka Anda tidak lagi dapat menjual saham Anda di pasar reguler.

Namun kabar baiknya, Anda masih tetap menjadi pemegang saham perusahaan tersebut. Tetapi bagaimana bila perusahaan akhirnya bangkrut ?

Anda hanya akan mendapatkan bagian dari penjualan aset perusahaan setelah perusahaan membayar segala hutang dan kewajibannya. Inilah resiko investasi yang harus Anda tanggung.

Dari semua kekurangan instrumen ini, tentunya saham akan tetap memberikan Anda potensi keuntungan yang sangat tinggi dan resiko yang minimal jika Anda menguasai ilmunya.  

Lantas bagaimana cara menghindari kerugian investasi dan memilih perusahaan yang tepat ? Akan dibahas pada artikel selanjutnya.

BAB SELANJUTNYA KLIK DISINI

2 thoughts on “Untung Rugi Investasi di Saham”

  1. Pingback: Perbedaan Saham, Reksadana, Obligasi, Forex dan Paper Aset lainnya - StockPapers

  2. Pingback: Analisa Teknikal vs Fundamental Saham, Mana yang Lebih Baik ? - StockPapers

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *