startup valuasi

Perusahaan Startup Masih Belum Untung, Bagaimana Menghitung Valuasinya ?

Dalam menilai bisnis dan valuasi perusahaan tech-startup, cara menilainya tentunya sangat berbeda dari menilai valuasi perusahaan biasanya. Tech-startup umumnya masih belum menghasilkan keuntungan ataupun keuntungannya yang masih sangat tipis. Nilai buku per lembar sahamnya pun biasanya dihargai sangat tinggi dikarenakan adanya prospek pertumbuhan yang baik dimasa yang akan datang. Selain itu, aset perusahaan biasanya didominasi oleh  intangible asset dan real asset yang sangat rendah. Seperti misalnya, perusahaan taksi online Uber yang sama sekali tidak memiliki armada kendaraan, atau Airbnb, perusahaan sewa hotel yang tidak memiliki properti sewa.  Lantas pertanyaannya, bagaimana cara menilai valuasinya?

Sebelum masuk ke matriks penilaian, hal penting yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar potensi pasar/niche dari bisnis tersebut dan seberapa besar pengaruh dari teknologi yang ditawarkan. Selanjutnya baru kita masuk ke matriks yang biasanya dinilai oleh para investor.

1. Jumlah Pengguna dan Aktif User

Dalam era teknologi, data adalah new oil. Jumlah data pelanggan yang dimiliki perusahaan sangat penting untuk menentukan nilai perusahaan tersebut. Dengan memiliki database rinci pelanggan, perusahaan menjadi lebih mudah dalam menawarkan berbagai produk. Sedangkan aktif user disini adalah jumlah pelanggan yang masih aktif bertransaksi dalam 1 tahun terakhir.

2. Gross Merchandise Value (GMV)

Gross Merchandise Value (GMV) atau yang dikenal juga dengan Gross Transaction Value (GTV) adalah matriks yang biasanya mengukur jumlah total transaksi yang dilakukan melalui aplikasi. Yang perlu digaris bawahi disini, jumlah total transaksi pada aplikasi tidaklah sama dengan revenue. Sebagai contoh, misalnya E-commerce A adalah platform perantara penjual buku dengan komisi penjualan 10%. E-commerce A berhasil menjual 1000 buku seharga Rp.100,000/buku maka nilai GMV/GTVnya sebesar 100 juta rupiah sedangkan pendapatannya adalah uang yang masuk kantong perusahaan yaitu sebesar 10 juta rupiah.

Growth dari GMV inilah yang biasanya dijadikan pertimbangan penting oleh para investor. Semakin tinggi growth berarti semakin besar jumlah transaksi yang dilayani aplikasi, hal ini berarti pula semakin bermanfaat aplikasi/teknologi tersebut.

3. Net Merchandise Value (NMV)

GMV adalah perhitungan yang masih belum spesifik. NMV dihitung secara lebih detail dengan mengurangi GMV dengan biaya-biaya untuk memperoleh transaksi atau GMV itu sendiri. Seperti misalnya, promosi/marketing, claim/complaint cost, payment cost, diskon dll. Misalnya E-Commerce A tadi memiliki beban promosi dan pemberian diskon dengan total 5 juta rupiah, maka nilai NMV nya menjadi 95 juta rupiah.

4. Annual Recurring Revenue (ARR)

Startup yang baik adalah startup yang mampu mendatangkan pelanggannya kembali untuk bertransaksi sehingga perusahaan mampu mendapatkan recurring revenue. Ingat, disini yang dimaksud adalah revenue atau pendapatan perusahaan bukan nilai total transaksinya pada aplikasi perusahaan seperti perhitungan GMV atau NMV. Nilai ARR dihitung dalam tahunan.

5. Customer Acquisition Cost (CAC)

Perhitungan matrix ini sangat penting untuk mengetahui tingkat efisiensi startup dalam menggaet customernya. Misalnya E-commerce A menghabiskan biaya iklan sebesar Rp. 5,000,000 dan berhasil mendatangkan 1000 customer baru, maka nilai CACnya adalahnya 5000. Semakin kecil nilai CAC maka semakin efektif dan efisien juga perusahaan dalam melakukan promosi.

6. Price/Sales Ratio

Dalam perusahaan startup perhitungan valuasi yang mungkin dilakukan adalah dengan menghitung rasio harga saham terhadap jumlah sales/revenue yang diperoleh perusahaan. Perhitungan rasio Price to Earning Ratio (PER) sering kali tidak dimungkinkan karena perusahaan yang masih belum profit atau profitnya masih sangat kecil.

Dalam menilai valuasi perusahaan startup, para diinvestor secara tidak langsung diharuskan bisa membaca prospek / ruang bertumbuh perusahaan kedepannya, karena profit yang dihasilkan biasanya masih sangat rendah (namanya juga masih rintisan, bukan?). Seperti misalnya perusahaan E-Commerce Amazon yang baru mampu mencatatkan laba setelah belasan tahun pasca IPO, namun sekarang telah sukses menjadi salah satu perusahaan dengan laba bersih terbesar didunia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *