Bagaimana Saham Gamestop (GME) Mengguncang Dunia?

Baru saja kita melewati sekitar satu setengah bulan dari tahun 2021 dan banyak sekali kejutan-kejutan terjadi di bursa saham. Tentunya masih segar di ingatan kita bagaimana saham-saham farmasi (KAEF, INAF) dan peralatan medis (IRRA) serta ANTM dan BRIS yang harganya melonjak tinggi sebelum akhirnya turun perlahan seiring IHSG yang memang turun pada akhir Januari lalu. Pergerakan harga ini menimbulkan kegaduhan pada investor ritel yang cuan besar dan nyangkut dalam. Bagaimana tidak, bahkan beberapa nama terkenal juga ikut meramaikan bursa saham dengan beberapa saham jagoannya. Sungguh hiruk pikuk yang melelahkan di awal 2021 ini Dan ternyata tidak hanya di bursa BEI, kegaduhan yang sama juga terjadi di bursa efek Amerika Serikat (NYSE). Bursa New York dikejutkan oleh saham Gamestop (kode emiten: GME) yang harganya melonjak tajam dan dalam waktu singkat turun lagi. Jujur tangan penulis gatal sekali untuk membahas fenomena ini, jadi mari kita lanjutkan bahasan kita di bawah ini!

GAMESTOP

Sekilas Gamestop dan Masa Keemasannya

Gamestop (kode emiten: GME) lebih dikenal di Amerika Serikat sebagai perusahaan ritel yang menjual video games dan konsolnya sekaligus. Per 1 Februari 2020 Gamestop sudah memiliki lebih dari 5500 gerai yang tersebar di seantero Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Selandia Baru. Gamestop terus bertumbuh dari awal berdirinya sebagai toko software di tahun 1984 dengan nama %awalnya Babbage’s. Nama ini unik karena terinspirasi dari Charles Babbage, matematikawan yang memelopori perkembangan komputer di dunia.

Dalam perjalanannya Gamestop banyak mengakuisisi perusahaan ritel video games seperti EB Games di tahun 2005 dan Micromania di tahun 2008. Jika Anda perhatikan, dalam rentang waktu 2000 hingga 2015 dunia video game didominasi oleh permainan single player dan menggunakan konsol game yang terus berevolusi. Maka tidak mengherankan jika masa-masa ini menjadi puncak keemasan Gamestop. Tercatat hingga pada akhir tahun 2016 Gamestop membukukan laba sebesar 9,36 miliar US$.

Redupnya Kinerja Gamestop

Sayangnya setelah tahun 2016 kinerja Gamestop tidak sama seperti masa kejayaannya. Pendapatan perusahaan kian menurun selama tahun 2016 hingga 2019 dengan CAGR sebesar -3.97%. Pendapaan perusahaa di tahun 2019 adalah 8,29 miliar US$, turun sebesar 3,04% dari pendapatan tahun sebelumnya. Bahkan di tahun 2019 pula Gamestop mencatatkan kerugian bersih 794,8 juta US$.

Kondisi ini memang sangat memprihatinkan mengingat industri game mengalami perubahan yang signifikan. Konsol game terkini seperti PS 5 dan XBOX Series X kurang peminat dibandingkan generasi pendahulunya katakanlah XBOX One dan PS2 yang saat itu penjualannya memang membludak. Perubahan industri game juga terletak pada platform penjualannya, yang saat ini gamers lebih memilih platform online seperti Steam untuk membeli game. Dampak perkembangan mobile gaming yang juga pesat ikut mempengaruhi pendapatan Gamestop.

PENDPATAN GME
laba bersih GME

Short Selling dari Beberapa Hedge Fund

Short selling sendiri merupakan aksi yang dilakukan oleh investor untuk “meminjam” beberapa lembar saham dari broker untuk kemudian dijual dan dibeli lagi di harga yang lebih rendah untuk kemudian sahamnya dikembalikan lagi ke broker.  Keuntungan yang didapat investor berasal dari selisih harga saham awal yang dipinjam broker dengan harga beli kembali saham tersebut.

Sudah dapat korelasinya di sini? Yep, beberapa hedge fund ini berjudi bahwa harga saham yang akan mereka short selling akan turun harganya. Melihat kinerja Gamestop yang menurun seperti ini tentunya tidak mengherankan jika harga saham Gamestop cenderung turun. Bahkan di akhir 2020pun harga sahamnya menyentuh 18,84 US$. Kondisi ini justru memancing para hedge fund untuk melakukan short selling.

Saat itu sudah terdengar ada hedge fund besar yang menangkap peluang untuk short seling ini: Melvin Capital. Antusiasme short selling ini sangat tinggi, bahkan 140% dari saham Gamestop yang dimiliki publik sedang dalam posisi short selling. GILA!

Isu Short Selling Sampai di Reddit

Isu hedge fund besar yang melakukan short selling ini sampai di sebuah forum di Reddit, tepatnya di forum r/Wallstreetbets (saat ini forum subreddit tersebut sudah tidak bisa diakses). Investor ritel yang bergabung dalam forum ini memanasi forum untuk mengajak para investor membeli saham Gamestop. Tentu banyak alasan yang dilontarkan di dalam forum tersebut, namun alasan utamanya adalah sebagai bentuk perlawanan investor ritel terhadap para pemain besar di bursa. Hal ini mengingat banyak hedge fund di Amerika yang sudah dalam kondisi “too big to fail” sehingga jika mereka bangkrut atau terkena kejahatan finansial akan tetap dapat bailout dari pemerintah.

Kenaikan Fantastis : People Power?

Jika harga saham Gamestop per akhir 2020 menyentuh 18,84 US$, maka per 20 Januari lalu harganya sudah naik hampir 2 kali lipatnya. Harga sahamnya naik makin tidak terkendali setelah Chamath Palihapitiya (CEO Social Capital) membeli saham Gamestop di harga 115 US$ dan mengunggahnya di Twitter.

Chamath Palihapitiya

Tidak hanya Chamath, Elon Musk juga ikut meramaikan kisruh ini dengan membuat post di Twitter. Dan iniliah yang Papa Elon tulis.

ellon musk

Dua tweet ini membuat gempar para investor di Amerika sana dan banyak yang berbondong-bondong membeli saham Gamestop. Dan harga sahamnya melonjak gila-gilaan hingga pada 27 Januari harga sahamnya sudah menyentuh 347,51 US$. Jika dibandingkan dengan harga saham pada tanggal 20 Januari lalu, harga saham GME sudah naik hampir 10 kali lipat.

Perdagangan saham-saham yang melonjak ini sempat dibatasi pada 28 Januari 2020 hingga harga saham Gamestop ditutup turun ke 193,60 US$. Padahal di hari ini jugalah saham Gamestop sempat menyentuh harga tertingginya pada level 483 US$. Esoknya pembatasan ini dicabut dan harga saham Gamestop meroket kembali hingga sempat menyentuh 413 US$. Di hari itu juga harga saham Gamestop dan ditutup pada harga 325 US$. Jika Anda bandingkan kenaikan harga ini dengan harganya pada 20 Januari lalu, maka kenaikannya sudah mencapai 16 kali lipat!

gamestop naik
(Gambar diambli dari CNBC)

Hal yang lebih gila lagi adalah tidak hanya Gamestop yang mengalami kenaikan harga serupa. Beberapa saham lain seperti AMC Entertainment Holdings (AMC) dan Koss Corporation (KOSS) juga mengalami kenaikan pesat. Masing-masingsaham AMC dan KOSS mengalami kenaikan 3 kali lipat dan 17 kali lipat dalam periode 20-29 Januari 2021 tersebut.

Terjerembab Terlalu Dalam

Fenomena short squeeze ini sayangnya tidak bertahan lama. Bagaikan gelembung sabun yang akan pecah pada akhirnya, harga saham-saham ini akhirnya turun dari puncaknya. Per hari artikel ini ditulis, harga saham GME sudah menyentuh harga 40,59 US$. Hal senasib juga dialami oleh saham AMC dan KOSS, yang per hari artikel ini ditulis menyentuh harga 5,70 US$ dan 14,05 US$.

HARGA GME

Siapa yang Rugi?

Fenomena kenaikan harga saham ini membuat para hedge fund yang melakukan short selling harus mengalami kerugian “mark-to-market” sebesar 19,75 miliar US$ secara year-to-date. Bahkan Melvin Capital disuntikkan modal sebesar 2,75 miliar US$ untuk menambal kerugian yang dialaminya. Kerugian yang dialami Melvin Capital mencapai 30% dari total asetnya pad awal Januari (12,5 miliar US$). Kerugian besar juga dialami Citron yang akhirnya menutup posisi shortnya pada 90 US$ dan mengalami kerugian hingga 100%.

Namun tidak hanya para hedge fund ini yang merugi. Layaknya saham yang dipompom dan harga sahamnya akhirnya turun lagi, investor ritel yang membeli saham di harga tinggi juga mengalami kerugian. Tentunya ini tidak bisa dihindari karena jumlah investor ritel yang banyak namun modal mereka terbatas. Bisa anda bayangkan ada investor yang tergiur untuk membeli saham Gamestop pada katakanlah harganya di 225 US$ dan akhirnya harus menjual sahamnya pada harga 90 US$ karena harga saham Gamestop sudah turun sejak awal Februari kemarin.

Pada akhirnya investor-investor ritel yang bersemangat untuk menumbangkan pemain bermodal besar harus menelan pil pahit. Tentunya ada rasa greed and fear yang mendorong mereka mencari keuntungan sendiri-sendiri.

rugi bandar

Penutup

Gamestop merupakan perusahaan yang bergerak di bidang retail video game dan konsol game. Sayangnya seiring perubahan dalam industri game yang serba online dan perubahan perilaku konsumen gamers menyebabkan kinerja Gamestop turun dalam rentang tahun 2017 hingga 2019. Bahkan perusahaan menyatakan ada kemungkinan mereka tidak akan mendapatkan laba bersih hingga 2023.

Kesempatan ini digunakan oleh para hedge fund untuk melakukan short selling, yang keuntungannya mereka dapatkan jika harga saham Gamestop turun. Salah dua hedge fund yang melakukan aksi ini adalah Melvin Capital dan Citron. Sayangnya, para investor ritel yang tergabung dalam forum r/Wallstreetbets di Reddit mengetahui info ini dan membakar semangat para investor lainnya untuk membeli saham GME dan saham lain (salah duanya AMC dan KOSS). Memang tujuan utamanya adalah untuk membuat para hedge fund ini merugi.

Kenaikan harga saham GME makin gila setelah Chamath Palihapitiya (CEO Social Capital) juga ikut membeli saham GME dan Elon Musk membuat dukungannya melalui cuitan Twitternya. Harga saham Gamestop meroket hingga menyentuh titik tertinggi pada 483 US$. Sayangnya harga yang tinggi ini tidak bertahan lama, harga saham Gamestop terus mengalami penurunan di sepanjang Februari ini.

Selain Melvin Capital dan Citron yang menelan kerugian sangat besar akibat spekulasi short sellingnya, investor ritel yang ikut membeli saham di harga tinggi juga mengalami kerugian. Hanya sang provokatorlah yang mendapatkan keuntungan karena mereka sudah masuk lebih dahulu dan mendapatkan posisi optimal untuk keluar.

Sumber:

Market Insider

CNBC.com

Market Watch – Gamestop

tirto.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *